Cinta adalah Getaran dalam relung jiwa yang terpancar
dalam suatu perasaan dan terbias dalam pancaran Hati Nurani yang terangkum didalam
naluri. Cinta juga adalah memautkan hati seseorang yang mencintai kepada ia
yang dicintai, dengan dorongan Hamasah dan wajah yang bercerahkan oleh
keceriaan.
Pengertian cinta diatas merupakan sebuah hal yang mendasar
yang harus ada di setiap diri Insan. Cinta itu terkadang muncul dalam diri
manusia dengan cara tidak disangka-sangka, ketika berjumpa dengan lawan jenis
ada getaran-getaran merdu yang mengiang-ngiang di hati, sesungguhnya dalam segi
naluriah perasaan suka itu sudah di anggap sebagai Cinta. Cinta yang diberikan
allah untuk kita sesungguhnya untuk memantapkan hati kita agar menjadi lebih
baik menuju ke arah yang positif. Ke arah yang positif ini memiliki berbagai
macam pengertian, ke arah yang positif dalam menempatkan Cinta sebagai tolok
ukur kesuksessan kita, menempatkan cinta sebagai Aura semangat hidup, hingga
pada taraf tertinggi menempatkan cinta untuk menambah ketaqwaan kita kepada
Allah.swt.
Kembali kepada tingkatan Cinta dalam kutipan ayat diatas
tersebut jelas dan tegas bahwa Tingkatan tertinggi dalam Cinta Hakiki adalah
Cinta Kepada Allah, Rasul, dan Jihad di Jalannya. Kemudian tingkatan Cinta yang
kedua yang Harus Kita Tanam dalam lentera Hati adalah Cinta kita kepada Kedua
orang Tua, Keluarga, dan pasangan yang sesungguhnya yang telah menjalin Ikatan
antara suami dan Istri, serta anak-anak yang tersayang. Dan pada Tingkatan
Cinta yang paling rendah adalah ketika kita mencintai orang tua kita, Keluarga
kita, Pasangan kita, harta kita itu adalah melebihi cinta kita kepada Allah, Rasul
dan Jihad Maka Inilah Tingkatan Cinta yang Paling Rendah dan Buruk
Tingkatannya.
Lantas Bolehkah kita Mencintai Keluarga kita, suami, anak,
istri? Ketika ditanya Seperti ini Maka jawabannya adalah Boleh, Tetapi
Kecintaan kita kepada keluarga itu dan apa saja yang kita cintai haruslah
Berdasar dan Bersandar. Maksudnya
Berdasar dan bersandar, bahwa berdasar akan kekuatan Allah dan Bersandar dalam
Naungan Allah. Karena sesungguhnya Allah lah sang Maha pemilik Cinta, Allah lah
sang Maha peneguh Hati dengan Cinta, Ketika kita lebih mencintai Barang yang
diberi dari pada yang Memberi maka Sang memberi akan kecewa dan Kesal
demikianlah Juga dengan ALLAH.
Hikmah dari Cinta:
Cinta adalah proses ujian yg keras dan pahit dalam kehidupan
manusia. Apakah cinta itu dalam perjalanannya akan menghantarkannya kepada
jalan yg mulia atau menghempaskannya kepada jalan yg hina.
Jika tidak ada cinta maka di dunia ini tidak akan ada
inovasi, pembangunan dan peradaban.
Keberadaan cinta merupakan faktor dominan dalam melestarikan
eksistensi manusia dan interaksinya dengan sesama manusia.
CINTA, Virus satu ini sulit bahkan susah untuk dihilangkan.
Dimana kita mencoba menghilangkan cinta, disaat itu virus Cinta terus
menggerogoti hingga kesumsum. Cinta merupakan Energi Ruhani dalam Hati, Cinta
menghadirkan Kedamaiaan Bukan PerMusuhan dan Cinta Menghadirkan Ketenangan
Bukan Kerisauaan,
CINTA pada Kekasih yang belum Terikat dalam Sebuah Mahligai Pernikahan
adalah Tolok ukur sesungguhnya PATAH HATI, Kecendrungan Berbohong, Saling
Menutupi, Ketidak Setiaan tentu akan muncul pada setiap Insan. Ketika sebuah
pertanyaan Sederhana Muncul dalam Hati ketika Patah Hati "Bagaimana Cara
Menghilangkan Patah Hati?" Jawabannya Mengacu Pada Sebuah Pepatah Arab
yang Menyatakan "Cintailah Kekasihmu Sekadarnya saja, Boleh jadi Suatu
saat dia Akan Membencimu, Dan Cintailah Kekasihmu Hanya sebatas Kewajaran Saja,
Boleh jadi ketika engkau Tahu kekurangan dari sang Kekasih engkau Juga akan
Membencinya".
Pepatah ini menjawab pertanyaan tersebut, Ketika kita tidak
ingin merasakan Patah Hati maka Jangan pernah bermain dengan Cinta dalam
keadaan belum terikat, Dan janganlah Mencintai Berlebihan Kepada Kekasih kita.
Karena Cinta yang berlebihan itulah yang menyebabkan kita sering patah Hati,
Perasaan berkecamuk menjadi satu. "Mengapa aku Mencintainya, Tetapi dia
menduakanku?", "mengapa Aku sudah terlanjur Mencintainya, Aku malah
digantungin Seperti ini?", "Mengapa aku sudah menyukainya dia malah
memutuskanku?". Pertanyaan ini membuktikan Bahwa kita terlalu mencintai
kekasih kita dari pada diri kita sendiri, Sehingga mengakibatkan Hati menjadi
kaku, pikiran menjadi kelabu, Marah, Hidup lesu, Wajah Pucat, Jiwanya kian di
perparah dengan berkurangnya Iman, senyum yang dahulu terhurai kini Kemasaman
Yang di hulurkan.
Ketika kita Ingin Menjalin Lebih dalam dalam suatu Hubungan
Islam telah mengajarkan kita tentang Ta'aruf (Perkenalan).
Konsep cerdas yang diberikan oleh Islam dalam Hubungan
laki-laki dan perempuan ini adalah bukti kecintaan Allah kepada kita, Ta'aruf
adalah proses perkenalan yang sangat islami, bukan mengedepankan hawa nafsu, ia
berasal dari etika yang tinggi Bukan dari etika yang rendah. Konsep Ta'aruf
berdasarkan keimanan bukan Nafsu semata. Bukan Berpegangan tangan seperti
Pacaran Prinsip utamanya, Tetapi berpegang Keyakinan untuk menuju jenjang
Ikatan yang sejati.
Itulah ISLAM, Indahnya Islam bersumber dari Kecerdasan
Keimanan kita, Allah telah memberikan Cinta kepada kita, Cinta sejati darinya
bukan Cinta yang menyebabkan Patah Hati tetapi Cinta sejati darinya adalah
Cinta yang Menyebabkan Penyejuk Hati.......
Semoga Allah memberikan Cinta kita Sesungguhnya , Bukan
Cinta tingkat Paling Rendah bukan juga Cinta yang melebihi cinta kita
kepadanya. Wahai Sahabatku kini kembalilah keArah Cinta sejati, Cinta yang
Hakiki CINTA KEPADA ALLAH.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar